WeLLCome

SeLamat Datang di Web Hery Suhendra, SeLamat menikmati...


Minggu, 01 Agustus 2010

Murtad Berbaju Islam

Sumber: SEBAGIAN besar suku Aceh yang Islam tak akan percaya jika ada orang Aceh yang keluar dari agamanya. Saya termasuk salah satunya, karenanya saat tsunami saya tidak begitu khawatir tentang masalah isu permutadan tersebut, sebab orang Aceh memiliki seperangkat “fanatisme positif” dalam merawat Islam sebagai agama orang Aceh. Namun, sekarang saya dan sebagian orang yang berpikir seperti itu tersentak bahwa para misionaris telah berhasil “mencuri” satu khasanah Aceh. Orang Aceh tidak cukup kebal dan kemungkinan juga “fanatisme positif” sudah tidak terawat lagi sehingga tiga orang wanita Aceh telah murtad dengan berbagai alasan. Satu korban saat diajukan pertanyaan, mengapa mau murtad? menjawab, “tidak dipaksa tetapi seperti tidak sadar”, satu lagi menjawab “tidak mengerti saya sudah murtad tetapi saya sudah dibaptis atau dimandikan” dan satu lagi menjawab, “Saya beralih agama secara sukarela, namun sekarang saya sudah beralih kembali ke Islam,” jawabnya. Dari pengakuan korban, ada sebuah pernyataan bahwa kendatipun mereka sudah beralih agama mereka tetap bisa melaksanakan shalat, menggunakan jilbab, dan kegiatan lainnya. Sebab, bagi misionaris tidak penting seseorang yang sudah murtad melaksanakan hukum “syariat” baru. Yang penting “domba” yang hilang itu sudah masuk dalam pengampunan yang mereka yakini selama ini. Artinya, orang Aceh harus sadar bahwa target misionaris dengan target Islam dalam masalah pertukaran agama, sangat berbeda. Dalam Islam, seseorang yang baru memeluk Islam diminta untuk hidup baru. artinya semua nilai lama harus ditinggalkan. Tetapi, dalam agama yang disiarkan para misionaris ini, mereka masih menganjurkan kepada penganut baru untuk tetap hidup dengan nilai lama. Yang penting bagi mereka, berubahnya keimanan dan kepercayaan kepada ajaran mereka. Dengan demikian, orang Aceh harus paham, proses pemurtadan seperti ini merupakan pekerjaan halus, tak berbekas dan sulit diditeksi. Karenanya, proses pemurtadan bukan sebuah bahaya terbuka, tetapi dia adalah laten dan lebih bermakna kepada tingkat tauhid. Misionaris juga suka menggunakan idiom Islam, terutama tentang Isa AS sebagai pintu masuk dalam membicarakan Islam dan kemudian ujungnya mereka akan memberitahukan kesamaan dan kedudukan mulia antara Islam dan agama baru yang disodorkan. Para misionaris suka memilih target orang Islam yang dinilai sekuler atau secara penampilan dapat mereka prediksikan sebagai “domba” yang mudah untuk diubah. Hasil pengamatan memang memperlihatkan kecenderungan tersebut, dari korban terlihat bahwa mereka termasuk orang Aceh yang modern dalam penampilan, dan memiliki sejarah bergaul yang “wah”, meski hanya setingkat perkampungan. Misionaris juga sering memesonakan dirinya lewat perilaku yang baik dalam melaksanakan kegiatan dan pekerjaannya terutama dalam bidang kemanusiaan. Pemberian bantuan dan keramahan mereka serta sikap yang baik yang ditunjukan kepada masyarakat, membuat beberapa orang mudah untuk dipengaruhi. Keramahan dengan niat spirituil ini, membuat “mereka” yang tertarik membandingkan dengan orang di sekeliling mereka. Kebaikan dalam bentuk pemberian, perhatian, kesempatan, dan pemberdayaan tersebut akhirnya menjadi sebuah lubang utuh untuk masuknya “nilai syirik” besar ke dalam nurani orang yang ditargetkan tersebut. Strategi Aceh Muslimin Aceh, terutama kalangan ulama, dayah, dan kalangan cendikiawan muslim berdarah Aceh dapat dikatakan tidak memiliki pengalaman “tanding” dengan para misionaris. Berbeda dengan muslimin atau ulama di pesantren di luar Aceh. Persaingan antar agama ini, telah membuat organisasi dan para ulama tertarik untuk belajar paham-paham misionaris, sehingga jurus mereka dalam menghadapi misionaris lebih mampu memahami, dan bahkan menangkalnya. Dengan demikian, sudah saatnya muslimin, ulama, dan organisasi Islam di Aceh memlengkapi diri dengan pengetahuan “counter strategi” untuk membongkar dan sekaligus mencegah proses misionaris ini secara tuntas. Di samping itu, penanganan syariat Islam juga bukan hanya sebatas pelaksanaan hukum-hukum Islam tetapi juga memantapkan fungsinya untuk mencegah gerak-gerik misionaris ini dan peningkatkan pendidikan keimanan di tengah masyarakat sehingga Aceh akan cukup punya pengetahuan umum dan ketahanan yang saya istilahkan dengan “fanatisme positif” untuk merawat nilai Islam di hati orang Aceh. Kajian Hukum Sampai hari ini, tidak mudah untuk menjadikan masalah pemurtadan ini sebagai masalah hukum. Dasar yuridis untuk menjerat pelaku pemurtadan orang Aceh tersebut hanya dapat dijerat dengan Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam Bidang Akidah dan syiar Islam khususnya pasal 4 ayat 3. Di mana disebutkan “Setiap orang dilarang dengan sengaja keluar dari akidah dan atau menghina atau melecehkan agama Islam” dan pasal 20 menyatakan “Barang siapa yang sengaja keluar dari akidah Islam dan atau menghina atau melecehkan agama Islam sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat 3 akan dihukum dengan hukuman yang akan diatur dalam Qanun tersendiri.” Masalahnya, qanun ini sampai dengan hari ini belum juga ada sehingga di lapangan Satpol PP dan WH sangat sulit menyelesaikannya secara hukum. Namun, ada satu kekuatan yang menjadi penentu dalam penyelesaian masalah ini terutama masyarakat yang sangat antusias agar masalah ini dapat diselesaikan secara cepat dan tepat. Artinya, proses pemurtadan tersebut agar dapat dihentikan segera. Jalan sistematis harus segera diambil, pertama, perlu digelar rakor secara provinsi sebab masalah ini bukan hanya terjadi di masyarakat Aceh Barat tetapi kemungkinan juga sudah merambah ke daerah lain. Kedua, masyarakat yang konsen terhadap Islam harus diikat secara cerdas oleh Dinas Syariat Islam Kabupaten/Kota untuk menjadi jaringan pendalaman Akidah sekaligus sebagai penangkal pendangkalan Akidah. Dan yang ketiga, perlu upaya memperbaiki persepsi terhadap Islam itu sendiri dari kalangan Islam. Penolakan yang membabi buta terhadap pemberlakukan busana Islam di Aceh Barat merupakan indikasi bahwa masyarakat kita sudah mulai termakan isu fundamentalisme Islam dan penabalan Islam sebagai terorisme. Wallahu a’alam. * Penulis adalah Kasatpol PP dan WH Aceh Barat.

Memutus Mata Rantai Misionaris di Aceh

Sumber: Misionaris, pendangkalan dan pembelokan akidah, serta pemurtadan, menjadi rangkaian kata yang sangat populer di Aceh, khususnya di Aceh Barat, dalam sepekan terakhir. Semua itu berawal pada 19 Juli lalu, ketika tiga warga Amerika Serikat diamankan Imigrasi Meulaboh demi mencegah amuk massa, karena mereka diduga menyebarkan misi Kristen di Aceh Barat, bagian dari tanah Aceh yang bersyariat Islam. Ketiga warga Amerika yang masih satu keluarga itu bekerja pada yayasan sosial (koperasi dan usaha kecil). Mereka juga punya link dengan beberapa guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Aceh Barat asal Sumatera Utara yang belakangan terungkap bahwa semua mereka terindikasi berkomplot sebagai misionaris. Berdasarkan arti kamus, misionaris adalah orang yang menyebarkan warta (kabar gembira) Injil kepada orang lain yang belum mengenal Kristus. Pada kenyataannya, setelah Satpol PP dan WH maupun kepolisian setempat menggencarkan pengusutan, aksi misionaris itu memang memiliki dasar pembuktian yang kuat. Setidaknya sudah tiga perempuan Aceh Barat mengaku dibaptis sebagai jemaat Kristus. Bukan cuma Injil, sejumlah kaset yang berisi lagu pujian-pujian untuk misa juga dimiliki wanita yang menjadi sasaran pemurtadan itu. Menariknya lagi, wanita-wanita yang awalnya muslimah itu tetap dianjurkan pakai jilbab dan melakukan shalat di masjid, namun senantiasa berada dalam kontrol dan arahan para pembaptisnya. Tak kurang mengagetkan, para wanita itu mengaku dibaptis di bawah alam sadarnya, sebagaimana diakui Juwita, Cut, ataupun Ernawista. Terus terang, sebagai umat beragama di negeri syariat, rasa keberagamaan kita tersayat-sayat membaca berita ini. Itu karena kita tahu tentang kesepakatan di negeri ini bahwa kepada orang yang sudah beragama dilarang menyebarkan agama lain. Di sisi lain, kehidupan yang damai dan tenteram tentunya dambaan semua umat beragama. Oleh karenanya, rasa saling menghormati dan toleransi antarumat beragama perlu terus dijaga. Namun, tetap tidak boleh dalam konteks toleransi itu ada pihak yang aktif melakukan penetrasi agamanya kepada orang yang sudah beragama. Ini terlarang dan pelanggarnya dapat dihukum. Islam sendiri mengajarkan, tidak ada pemaksaan dalam beragama. Memeluk agama tertentu haruslah didasarkan kesadaran sendiri. Oleh karenanya, pihak berkompeten perlu segera mengambil langkah strategis untuk memutus mata rantai jaringan misionaris di Aceh, agar upaya pemurtadan dan pembelokan akidah seperti di Aceh Barat, tidak menyebar luas di bumi Serambi Mekkah ini. Selain itu, masyarakat muslim diimbau untuk terus mempertebal iman dengan melaksanakan syariat Islam secara baik dan benar, tidak mudah tergoda dengan ajakan-ajakan kelompok misionaris. Tak kalah pentingnya adalah meningkatkan pemahaman keislaman dan membuat mereka tidak terus-menerus terpuruk dalam kemiskinan, karena kefakiran sangatlah dekat dengan kakufuran.

Ujian Iman dari Misionaris

FUAD Mardhatillah UY Tiba (FM) dalam tulisannya berjudul Pemurtadan; Ironi, Dilema, dan Hikmah (Serambi, 26/07/2010) dengan berani memunculkan analisis cerdas tentang aksi pemurtadan yang secara terjadwal mewarnai wajah negeri syariat ini. Selain menganggap isu pemurtadan yang mencuat di penghujung Juli 2010 di Aceh Barat itu sarat akan muatan politis, FM juga menohok para elite agama dan pejabat Aceh yang menurutnya lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan umat. Meski tergolong berani dan cerdas dalam memunculkan tesis, namun FM terlihat kurang lugas alias remang-remang dalam mengulas sisi penggunaan dana publik yang dihabiskan untuk menangkal isu pemurtadan itu. FM hanya menulis, “meskipun anggaran yang dikelola pemerintah kini menjadi berkali lipat. Tapi semua anggaran itu kembali ke saku para pemegang kuasa di berbagai sektor dan kalangannya, termasuk di kampus dan lembaga-lembaga pendidikan lain.” Seharusnya, mantan Deputi Agama, Sosial dan Budaya BRR NAD-Nias itu dapat memberi bandingan gambaran dana yang terkuras untuk mengantisipasi isu pemurtadan yang amat seksi itu. Minimal FM dapat menyebut berapa anggaran yang digelontorkan BRR untuk memfasilitasi dan menggaji tim investigasi pemurtadan yang terbentuk di era kedeputiannya di BRR. Dengan cara ini, maka publik akan dapat menilai apakah tesis FM tentang “politisasi” isu pemurtadan itu benar atau tidak. Mencuatnya isu pemurtadan berupa pembaptisan tiga perempuan asal Aceh Barat menjelang bulan suci Ramadhan 1431 H ini telah memicu kemarahan publik dan pejabat Aceh. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wagub Aceh Muhammad Nazar, Bupati Aceh Barat Ramli MS, Ketua MPU dan sejumlah pejabat teras lainnya memberi komentar-komentar geram terkait fenomena murtadnya sejumlah warga Aceh Barat. Berbeda dengan FM, para pejabat Aceh tampak belum berani melakukan instrospeksi internal soal keberhasilan misionaris dalam mengubah akidah warga Aceh. Mereka cenderung menyalahkan misionaris secara sepihak. Padahal, aksi misionaris tidak akan berbuah hasil jika lembaga-lembaga keagamaan yang ada di Aceh bekerja optimal dalam mengawal aqidah umat. Menguji kualitas iman Aksi pemurtadan silih berganti mengemuka di Aceh. Dalam catatan FM, aksi itu pernah mencul di tahun 1998, 2005 dan kini di tahun 2010. Melihat rentang waktu mencuatnya isu pemurtadan itu, maka terbuka kemungkinan dalam lima atau sepuluh tahun ke depan fenomena itu akan kembali muncul, dan umat Islam Aceh akan dihebohkan lagi. Berbeda dengan isu pemurtadan era 2005 yang sulit dibuktikan meski telah dilakukan investigasi atas laporan masyarakat (Lihat Hasan Basri M.Nur, Is issue of conversion in Aceh substantiated?, The Jakarta Post, 11/1/2006), aksi pemurtadan kali ini tampak sangat nyata tentang lokasi (where), kapan (when), siapa (who), dan bagaimana (how) proses pemurtadan itu terjadi. Hanya satu soal yang belum terjawab dan perlu segera dicari jawabannya adalah mengapa (why) itu terjadi. Pada sisi lain, aksi pemurtadan sebenarnya menjadi instrumen paling jitu untuk menguji kualitas iman umat. Melalui ujian ini para pemimpin di negeri berjuluk “tasawwuf” itu dapat mengevaluasi sejauhmana kualitas iman umatnya. Seandainya aksi pemurtadan ini tidak tercium barangkali kita akan selalu menganggap bahwa iman ureung Aceh sudah mapan, tidak akan pernah tergoda oleh dogma lain. Dengan demikian, aksi misionaris yang bergerilya di Aceh Barat sejatinya menjadi cambuk bagi para pemimpin negeri yang mengklaim bersyariat Islam kaffah untuk introspeksi diri sehingga tidak terlalu gampang mencari kambing hitam apalagi “lempar handuk” berupa penolakan bertanggungjawab. Memarahi dan mencaki maki misionaris agaknya tidak menjadi solusi dalam memapankan keimanan umat. Terceburnya tiga perempuan berjilbab asal Aceh Barat ke dalam pelukan agama lain menjadi bukti nyata bahwa ada permasalahan besar dalam keimanan umat. Untuk itu, semua instansi terkait perlu dievaluasi sejauhmana efektifitas program-program yang dijalankan serta tingkat pertanggungjawaban dalam melakukan tugasnya yang memang dibayar dengan uang negara. Selain organisasi keagamaan level provinsi dan kabupaten, agaknya pemerintah perlu mengevaluasi efektifitas dan tanggung jawab instansi-instansi resmi yang bergerak di level kecamatan. Bukankah Aceh memiliki aneka instansi “plat merah” yang mengurus masalah keislaman? Dinas Syariat Islam, Wilayatul Hisbah, Kemenag, MPU, Badan Dayah, Baitul Mal, KUA, BKPRMI serta instansi-instansi “plat merah” lain semuanya harus dievaluasi agar mereka secara bersama-sama menjalankan tanggung jawab dengan lebih serius dan tanpa pamrih sehingga tidak ada celah bagi pihak lain untuk mencoba menggoda keimanan warga Aceh. Seandainya instansi-instansi di atas saling lempar tanggung jawab dan mengedepankan pemanfaatan dana negara untuk dimasukkan ke kantong pribadi sebagaimana dikeluhkan FM, maka jangan menyalahkan aksi misionaris yang bermain di celah-celah kelalaian kita. Sebab, semua agama, kecuali Yahudi, mempunyai misi penyebaran dan perekrutan umat agar berkembang. Kita patut merasa malu melihat aksi pemurtadan terjadi di depan hidung instansi-instansi keagamaan yang ada di Aceh, apalagi instansi-instansi ini memiliki jaringan hingga kecamatan bahkan pedesaan serta didukung oleh infrastruktur dan anggaran rutin. Sementara misionaris yang datang jauh dari luar Aceh, bahkan dari luar negeri, bekerja dengan modal sendiri, tanpa didanai negara dan mungkin tidak berharap imbalan. “Razia iman” Mencuatnya fakta pemurtadan tiga dara berjilbab di wilayah Aceh Barat yang oleh Bupati Ramli MS telah distempelkan sebagai Negeri Tauhid dan Tasawwuf itu telah mencengangkan publik Aceh. Kebijakan Sang Bupati untuk “me-rok-kan” Kota Meulaboh tampak sia-sia mengingat iman sebagian penduduknya yang rapuh. Meski korban pemurtadan mengaku dibaptis di bawah alam sadar, tetapi pembongkaran kasus ini tidak berawal dari laporan korban melainkan digeladah oleh masyarakat. Barangkali Bupati Ramli tidak pernah mengetahui ternyata isi hati (iman) rakyatnya sangat rapuh akibat kesalahan didikan bertahun-tahun, sehingga dia pun buru-buru mengejar simbol semisal stempel “Kota Tauhid dan Tasawwuf” serta “Kota Rok”. Fakta pemurtadan kini menjadi PR baru bagi Sang Bupati dan Pemerintah Aceh untuk membuat peraturan “razia iman” bagi penduduknya. Berbeda dengan razia rok, razia iman ini barangkali amat sulit ditemukan mekanismenya, karena ia sangat abstrak dan hanya ada di dalam hati. Akan tetapi, sebelum merazia keimanan rakyat, ada baiknya Pak Bupati menetapkan indikator beriman bagi aparatur pemerintah seperti tidak menggunting dana rakyat untuk kepentingan pribadi/kelompok, tidak menyia-nyiakan fakir miskin sehingga mereka terjerumus dalam jurang pemurtadan, tidak menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi, tidak mengeluh apalagi membeda-bedakan bentuk pelayanan kepada rakyat dan sebagainya. Semoga! * Penulis adalah Dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Jumat, 30 Juli 2010

Islam “Mazhab” Aceh

ISLAM di Aceh, dengan syariat Islam sebagai isu utamanya, kembali menjadi salah satu topik pembicaraan atau diskursus belakangan ini. Sejumlah tulisan di media mulai dari Aceh Satu Mazhab, Negeri Cari ‘Ap, dan Membela Syariat Islam cukup menggambarkan bagaimana tingginya perhatian masyarakat dan publik terhadap hal ini. Seyogyanya semua tulisan di atas, dari perspektif manapun, haruslah dihargai sebagai bentuk apresiasi dan harapan mereka untuk melihat Islam di Aceh ke arah yang lebih baik. Jikapun ada yang bernada kritis, pedas bahkan sinis, itu adalah wujud ekspresi kecintaan mereka, jangan kemudian diterjemahkan sebagai pihak yang kontra syariat. Islam Aceh seharusnya Islam dengan sistem dan tata hidup universal yang mencakup agama, bangsa, syiar dan syariat, rakyat dan pemerintahan, rahmat dan keadilan, kultur dan qanun, sains dan hukum, aqidah dan ideologi. Tidak ada istilah islam aqidah vs islam politik, islam pastoral atau islam ibadah. Islam dan Aceh, sebagaimana yang disampaikan oleh Dr.Edward Aspinal dalam sebuah diskusi, harus diakui sejak lama menjadi bagian dari urat nadi dan identitas masyarakat Aceh, sekaligus sebagai jalur perekat dengan wilayah lain di nusantara dan bagian dunia yang lain. Oleh karenanya, Islam Aceh tidak boleh hanya ditafsirkan sebagai alat bagi para penguasa untuk menghukum rakyat kecil, tapi malah menafikan pelanggaran hukum yang dilakukan para pengambil kebijakan. Kekhawatiran banyak pihak, bahwa islam Aceh hanya mengurusi hal-hal kecil dan domestik, tapi malah melupakan nilai-nilai islam yang substansial dan bersifat publik seperti keadilan dan kesejahteraan, tidak boleh tidak menjadi catatan penting bagi kita semua, khususnya para ulama dan umara di Aceh. Jadi islam sudah sepantasnya mengatur hal domestik dan hal publik. Ia memperkecil korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Islam ‘mazhab’ Aceh seharusnya tidak parsial, tapi spesial dan menyeluruh. Mengenai perdebatan mazhab dan aliran fiqh di Aceh. Pendapat imam dan wakilnya atas suatu yang tidak ada nashnya bisa diamalkan selama tidak bertentangan dengan syariah. Ini berubah sesuai kondisi, situasi, adat dan tradisi. Pendapat Seseorang boleh diikuti atau ditinggalkan kecuali Rasul. Karena cuma Rasul saw yang makshum. Tetapi kita tidak boleh menyerang pribadi dalam masalah khilafiah, kembalikan semua keniat, apalagi menyatakan seseorang kafir, tanpa yang bersangkutan memang dengan jelas mendeklarasikannya kafir dan jelas-jelas melakukan kekafiran. Islam adalah agama yang mengajak bukan mengejek. Oleh karena itu, setiap muslim yang belum mencapai tingkat mujtahid dalam melihat dalil hukum, boleh mengikuti salah satu imam agama, dan akan lebih baik jika mengikuti tidak dengan taklid, tapi mengikuti ijtihad sesuai dengan kemampuan dan dalilnya serta hendaknya ia segera menyempurnakan kekurangan ilmiahnya. Inti lain yang diharapkan dari islam di Aceh ke depan adalah berkembanganya ilmu sebagai salah satu metode dalam menguatkan keislaman. Dalam dinamikanya, Islam berkembang pesat di Eropa dan Asia karena penyebaran ilmu. Bab Pertama dari 40 Bab buku Ihya Ulumuddin-Al Ghazali adalah mengenai rintangan ilmu. Jadi jelas bahwa penyadaran adalah hal utama dalam Islam. Kesadaran membuat orang kemudian ikhlas beramal, professional berbuat, bahkan sungguh-sungguh dan rela mengorbankan kepentingan pribadi dalam menjalankan amanah. Pada titik tertentu bahkan ia bisa memperkuat persatuan umat dan memajukan bangsa dan negara. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata bahwa, ‘orang beramal tanpa ilmu akan merusak’. Demikian juga dengan Hasan Basri, orang tanpa ilmu adalah orang yang tanpa tujuan. Juga Rasulullah Saw mempertegas bahwa perbedaan antara orang berilmu dan tidak adalah ibarat aku dengan orang yang paling bodoh diantara kalian. Akan tetapi, patut dibedakan antara orang-orang yang berilmu dan tidak. Biasanya orang yang berilmu dia jika mendapati dua perbedaan pendapat, dan tidak nampak baginya mana yang lebih rajah diantaranya, ia tidak akan sungkan untuk mengatakan tidak tahu. Sedangkan orang yang mengaku berilmu, ia akan bersikap keras kepala, tidak bisa diajak dialog dan sibuk mempublikasikan kepakarannya. Bahkan Umar r.a sekalipun tidak segan mengatakan ketidak tahuannya ketika amirul mukminin ditanyakan mengenai hukum warisan dan riba. Lebih lanjut, Dr. Yusuf Qardhawy mengatakan adalah mustahil untuk menyamakan semua pendapat. Beliau berpendapat menyatukan banyak ragam pendapat dalam Islam adalah mimpi yang indah, tapi sangat jauh untuk dapat diwujudkan. Perbedaan adalah keniscayaan. Menurutnya yang bisa dilakukan oleh umat Islam sekarang adalah mencoba mendekatkan perbedaan itu, mengkoordinasikan dan bersepakat terhadap hal yang sama serta bertoleransi atas hal yang berbeda demi menjaga rasa persatuan dan ukhuwah yang jauh lebih penting daripada bersikeras, apalagi dalam hal furu’. Mengenai praktik diskursif nasionalisme keacehan, Islam di Aceh juga sangat akomodatif. Jika memang nasionalisme nasional Jakarta sudah tidak mampu lagi memberi kebaikan bagi Islam dan masyarakat Aceh, maka nasionalisme keacehan diharapkan mampu memberikan semangat baru bagi tercitanya nilai keamanan, kesejahteraan dan keadilan. Jika memang nasionalisme yang dimaksud adalah rasa cinta tanah air Aceh dengan segala kerinduan untuk menjadi lebih baik dan maju di masa depan, maka Islam adalah partner untuk itu. Bila yang dimaksud dengan nasionalisme keacehan adalah semangat untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, menguatkan rasa persatuan serta memberikan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya bagi setiap individu maka itu sangat cocok dengan ciri khas Islam. Namun jika nasionalisme justru membawa kemudaratan, perpecahan, dikotomi dan pengkotakan umat dalam selubung fanatisme buta tanpa arah. Bila nasionalisme yang dimaksud hanyalah sarana untuk saling mencaci, saling menuduh dan berpecah belah, maka itu semua bukanlah nasionalisme yang pantas ada di Aceh. Mazhab Islam Aceh adalah wajah islam reumeh yang memberi peluang kepada kekhususan dan keunikan masyarakat Aceh dengan segala dinamikanya. Kalau kita mau jujur, sebenarnya berapa persen saja syariat yang memang harus dilegal-formalkan, sisanya mungkin sudah dilaksanakan dalam kehidupan keseharian kita, karena memang Islam itu sudah menjadi bagian penting dalam jiwa dan amal masyarakat Aceh. Islam Aceh yang damai dan menyeluruh adalah dambaan. Ia menghargai keragaman tanpa melupakan keteraturan. Aceh dan Islam membiarkan hal-hal dalam ‘zona termaafkan’ dan unsur sektoral sebagai bagian untuk perbaikan diri ke arah yang lebih baik, tanpa perlu terlalu kaku dan baku dalam menanggapinya. Perhatian Islam Aceh hanyalah kepada hal-hal umum (kulliyat), prinsipil (maqashid), dan kaidah dasar dalam hal baku demi adanya ketertiban dan keteraturan. Sisanya kita diminta menjadi bagian penting dari kreativitas, keagungan dan kemajuan Islam di Aceh ke depan dalam hal teknis, detil, sesuai kebutuhan lokal. * Penulis adalah dosen IAIN Ar-Raniry [Serambinews.com]

Minggu, 25 Juli 2010

Aksi Misionaris daLam Pemurtadan

[Sumber Photo: Eramuslim.com] [Pemurtadan di Negeri Tasawuf] SUNGGUH ironi memang, telah terjadi peristiwa mencengangkan yakni aksi pemurtadan di Aceh yang bergelar Serambi Mekkah, dan justru di Meulaboh Aceh Barat yang selama ini populer dengan sebutan Negeri Tauhid Tasawuf. Seperti percaya tidak percaya dengan apa yang terjadi di Aceh Barat, namun sebagaimana diberitakan Serambi (23/7), aksi pemurtadan itu memang benar adanya. Ketika Pemerintah Aceh umumnya, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat khususnya sedang giat-giatnya melaksanakan pemberlakuan Syariat Islam dengan melakukan pemberantasan maksiat, justru kita dikejutkan dengan berita pemurtadan secara terencana. Dan, bila ini tidak segera mendapat tanggapan dari pihak berkompeten, baik itu pemerintah maupun Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), maka bukan mustahil upaya pemurtadan akan terus merambah ke pelosok pedesaan. Sebagai warga Aceh Barat, kita salut dan gembira dengan kebijakan Bupati Ramli MS yang dengan tegas memberlakukan rok (pakaian muslimah) bagi kaum perempuan terutama pegawai negeri. Ketika kebijakan Bupati Ramli tengah dimaksimalkan dengan menurunkan petugas Wilayatul Hisbah (WH) untuk melakukan razia terhadap kaum perempuan yang menggunakan pakaian ketat, justru muncul aksi pemurtadan. Jika pascamusibah gempa bumi dan tsunami melanda bumi Serambi Mekkah, berkembang isu pemurtadan secara diam-diam yang dilakukan para NGO luar negeri sambil memberikan bantuan kepada masyarakat terkena bencana. Saat ini, meski NGO luar sudah jarang kelihatan, namun bila disimak justru pemurtadan dilakukan secara sangat berencana. Ratusan kaset lagu-lagu pujian yang disita polisi membuktikan bahwa rencana pemurtadan telah dilakukan secara matang. Malah yang lebih mengkhawatirkan, terlibatnya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kalau ini tidak segera diakhiri, akan sangat sulit nantinya untuk memberikan pengetahuan tauhid karena anak usia dini telah dibekali dengan berbagai ilmu bukan ajaran Islam. Ernawita alias Nonong, warga Suak Seumaseh Kabupaten Aceh Barat serta rekannya berinisial N, warga asal Sumatera Utara yang berprofesi guru PAUD bukan mustahil akan mengajarkan kepada anak didiknya berupa fundamen agama bukan Islam. Ernawita alias Nonong yang juga mengaku telah membaptis Juwita, warga Suak Geudeubang pada 7 Juni 2010 di Pantai Lhok Bubon Samatiga harus diminta keterangan secara detail dengan harapan dapat mengungkap secara sunggug-sungguh aksi pemurtadan di Aceh Barat. Ini merupakan pekerjaan rumah cukup berat bagi pemerintah dan MPU kabupaten. Meski Nonong tidak lagi seorang muslimah, namun dari pengakuan kepada petugas, ia tetap menggunakan jilbab serta shalat berjemaah dengan tujuan agar tidak diketahui oleh masyarakat. Namun, sepandai-pandai ia menyembunyikan kebusukan, suatu saat juga akan diketahui. Setidaknya, sejumlah perempuan Aceh Barat yakni Nonong, Juwita, dan Cut Susinilawati telah terbukti korban dari aksi pemurtadan. Terlepas apakah yang dilakukan Nonong cs itu di luar kesadaran atau bukan, yang jelas aparat WH dan penegak hukum lainnya dituntut untuk mengungkap secara jelas aksi pemurtadan. Bila pengungkapan ini tidak jelas, maka program pelaksanaan syariat Islam serta instruksi berbusana muslimah kepada kaum perempuan di Negeri Tauhid Tasawuf akan sia-sia. Sebab, bukan mustahil ada pihak yang mengatakan, untuk apa dipaksakan penggunaan busana muslimah kalau aksi pemurtadan saja tak berhasil diungkapkan secara jelas. Instansi terkait di Aceh Barat serta orang tua pun dituntut untuk lebih peka terhadap pendidikan anak di sejumlah lembaga pendidikan. Terungkapnya aksi pemurtadan oleh guru PAUD di Negeri tauhid Tasawuf merupakan peringatan awal kepada instansi terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Syariat Islam, Kementrian Agama serta pihak-pihak terkait lainnya. Orang tua murid pun, dengan banyaknya lembaga pendidikan, harus lebih hati-hati memilih tempat anaknya belajar. Bila tidak, anak-anak kita akan lebih mudah diberikan ilmu yang berkaitan dengan pendangkalan akidah. Selain mempercayakan lembaga pendidikan untuk mendidik anak, para orang tua pun berkewajiban untuk memberikan ilmu tauhid kepada anaknya. Terungkapnya pemurtadan berencana yang dilakukan pihak tertentu telah mencoreng wajah negeri Tauhid Tasawuf. Karena itu, berbagai pihak mengharapkan sesegera mungkin dapat mengungkap apa motif sehingga sejumlah muslim dan muslimah Aceh Barat rela murtad serta berpaling dari Islam. Selama beberapa warga yang mengaku telah dibaptis terus diminta keterangan, mudah-mudahan faktor apa yang menyebabkan mereka murtad akan segera diketahui. Andaikata faktor penyebab murtad sejumlah warga Aceh Barat diketahui, apakah faktor ekonomi atau berbagai faktor lainnya, maka akan lebih mudah mengantisipasi aksi pemurtadan. Selain itu, harus diketahui persis siapa dalang dari aksi pemurtadan yang terjadi di bumi Tauhid Tasawuf Aceh Barat khususnya, serta di Aceh umumnya. Bila ini dapat segera terungkap, MPU wajib memberikan fatwa tentang apa tindakan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi Islam dari aksi pemurtadan. Selain itu kita juga tetap berdoa semoga Allah swt menyelamatkan Islam di Bumi Serambi Mekkah. Insya Allah. (Penulis:* Sofyan S Sawang adalah mantan anggota DPR Aceh) [Misionaris Perluas Jaringan] Aksi para misionaris dalam upaya pemurtadan dan pembelokan akidah dengan sasaran penduduk muslim di Aceh Barat, diduga semakin memperluas jaringannya. Buktinya, jumlah warga yang pindah agama terus bertambah dan pihak misionaris sendiri, kini dilaporkan juga aktif merekrut warga yang berdomisili di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Jaya. Aksi pemurtadan dan pendangkalan akidah bagi warga muslim di Aceh Barat, kini mulai menunjukkan titik terang. Para misionaris yang telah berhasil mempengaruhi warga muslim di beberapa desa di wilayah itu, menargetkan Kabupaten Aceh Barat khususnya di Desa Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, sebagai lokasi pembaptisan dan akan menjadikan daerah tersebut sebagai pusat pengembangan agama nonmuslim di kawasan pantai barat selatan Aceh. “Warga muslim yang kini telah berpindah agama tanpa sengaja, yang dilakukan oleh misionaris tersebut, jumlahnya kita perkirakan semakin banyak. Bahkan, selain telah merekrut anggota di Aceh Barat, kelompok itu disinyalir juga telah merekrut warga dari Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Jaya,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Kasatpol PP dan WH) Aceh Barat, H Teuku Ahmad Dadek SH, melalui Kasi PKD dan Syariat Islam, Fadlian Syahputra SSTP MSi kepada Serambi, Jumat (23/7). Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya kepada ketiga korban pemurtadan dan pendangkalan aqidah masing-masing Ernawita alias Nonong Binti Bustaman, Juwita Binti Karman, serta Cut Susinilawati, misionaris yang selama ini bekerja di wilayah itu, memang sengaja melakukan pendangkalan akidah bagi umat Islam, dengan mengatakan bahwa Nabi Isa akan mengampuni dosa-dosa manusia serta tak boleh percaya kepada Nabi Muhammad SAW. Tak hanya itu, katanya, para misionaris yang melakukan pemurtadan tersebut memang sengaja melakukan pendangkalan aqidah untuk mempercayakan agama yang dianutnya tersebut, untuk menjerumuskan ketiga korban dalam agama mereka, serta turut diberikan buku-buku doa agama dimaksud sekaligus kitab Zabur maupun Injil. Supaya aksi yang dijalankan itu tak diketahui masyarakat banyak, para misionaris yang kini sedang dilacak keberadaannya itu turut berpesan bahwa apabila mereka membocorkan rahasia bahwa mereka telah dipindahkan agamanya kepada warga lain, maka para kaum perempuan itu kondisinya dalam bahaya. “Kesimpulan sementara, ketiga warga Kecamatan Samatiga ini merupakan korban pendangkalan aqidah dan bukan pelaku pemurtadan, mereka hanyalah korban misionaris yang berupaya menjerumuskan kepada agama non muslim seperti yang selama ini dianut para warga yang berasal dari luar Aceh tersebut,” terang Fadlian. Memang disengaja Di sisi lain, ujar Fadlian, para misionaris yang menjalankan aksinya itu memang sengaja memurtadkan ketiga kaum perempuan tersebut dari agama Islam menjadi agama non muslim. Karena ketiga warga yang kini diamankan pihaknya, kurang mendapatkan pembekalan ilmu agama Islam sehingga sangat mudah dipengaruhi. Apalagi ketiganya sama-sama memiliki masalah dan beban hidup yang berat dan tak mampu ditanggung sendiri. Melihat situasi seperti itu, para misionaris yang selama ini telah menjalankan misinya yang tersembunyi itu, langsung memanfaatkan momen tersebut untuk menjalankan aksinya dengan berbagaimacam cara. Apalagi ketiga korban tak begitu paham ajaran agama Islam dan malah dijanjikan oleh misionaris bahwa jika mereka mempercayai Nabi Isa AS, maka hidup mereka akan kembali tenteram termasuk mendapatkan penghapusan dosa dari masa lampau hingga ke masa yang akan datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan pada ketiga korban, tambah Fadlian Syahputra, pelaku utama yang membaptis ketiga warga Kecamatan Samatiga tersebut bukanlah para warga Aceh Barat seperti yang saat ini mereka amankan, melainkan otak rencana tersebut merupakan ketiga teman mereka yang merupakan misionaris. “Ernawita dan Juwita hanya diminta tolong untuk memandikan temannya itu untuk percaya kepada Nabi Isa, sedangkan doa-doa tertentu hanya dibacakan oleh ketiga warga nonmuslim tersebut yang dilakukan di dua lokasi terpisah, masing-masing di kawasan Pantai Lhok Bubon, Kecamatan Samatiga serta kawasan Pantai Ujong Kareung, Kota Meulaboh,” kata Fadlian mengutip pengakuan para korban pemurtadan itu. “Jadi sangat jelas, bahwa ketiga perempuan yang kita amankan ini bukan pelaku pemurtadan, melainkan mereka hanya korban dari perbuatan misionaris. Apalagi ketiganya hingga kini tak tahu bagaimana cara beribadah dalam agama nonmuslim tersebut,” imbuhnya. Guna menutupi kedoknya, para misionaris itu tetap memperbolehkan ketiga korban untuk melaksanakan ibadah seperti yang selama ini dilaksanakan oleh umat Islam seperti menunaikan shalat lima waktu, serta memakai busana muslim. Namun untuk kepercayaan dalam hidup, mereka hanya diminta untuk pecaya kepada Nabi Isa dan tak boleh percaya kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. “Ini baru sebagian fakta yang terungkap,” pungkas Kasi PKD dan Syariat Islam Satpol PP dan WH Aceh Barat itu. [Aksi Misionaris Melanggar Hukum] Aksi pemurtadan dan pembelokan akidah yang dilakukan sejumlah misionaris khusus di Aceh Barat, dinilai melanggar hukum. Sebab, kebebasan beragama di Indonesia termasuk di Aceh, tidak boleh memaksakan seseorang yang sudah memeluk agama tertentu, masuk ke agama lainnya. “Karena itu, sebelum meluas dan mengganggu ketentraman masyarakat, fenomena yang terjadi dan ditemukan di Aceh Barat itu, harus diselesaikan dengan cepat dan tegas,” kata Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, Muhammad Nazar, terkait kasus pemurtadan dan upaya pembelokan akidah tersebut, kepada Serambi, di Banda Aceh, Jumat (23/7). Dikatakan, menurut aturan yang ada tentang kebebasan beragama di Indonesia bahwa seseorang atau suatu kelompok agama tidak boleh memaksakan orang lain yang sudah beragama masuk ke agama lain. Dalam agama Islam sendiri, misalnya, malah diajarkan tidak ada pemaksaan dalam beragama. “Seseorang atau kelompok orang yang ingin memeluk agama tertentu, haruslah dengan kesadaran sendiri,” kata Wagub Muhammad Nazar. Sayangnya, sebut Muhammad Nazar, ada orang dan kelompok yang beragama lain justru memaksakan orang-orang Muslim pindah agama, ini banyak terjadi bukan hanya di Aceh. Mestinya antarumat yang berbeda agama harus dibangun toleransi, bukan memaksakan umat lain berpindah agama. “Hal itu, tentunya, sangat bertentangan dengan aturan dan hukum yang ada,” katanya. Lebih jauh, ujar Wagub Muhammad Nazar, aksi misionaris seperti itu dapat menimbulkan masalah baru. Karena itu orang-orang yang bergerilya atau menjadi misionaris yang berkerja memaksakan orang yang sudah beragama pindah ke agama lain haruslah ditindak tegas. “Pemerintah pusat tidak boleh lamban dengan hal-hal seperti itu, karena kewenangan kebebasan beragama ada di tangan pemerintah pusat,” tegasnya. “Kami sendiri di Pemerintah Aceh telah melakukan koordinasi intens dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Kementerian Agama dan Dinas Syariat Islam Aceh, untuk menyelidiki dengan baik kasus misionaris di Meulaboh tersebut,” imbuh Wagub Muhammad Nazar. Menurutnya, dengan cara apa pun, mulai dengan cara menghipnotis, alasan memberi bantuan sampai kekerasan yang bertujuan agar orang yang telah beragama mau memindahkan agamanya ke agama lain, itu dapat disebut pemaksaan. “Pemaksaan pemindahan agama itu, baik dalam Islam maupun aturan Negara Indonesia adalah dilarang keras. Pelakunya harus ditindak tegas, tetapi masyarakat tidak boleh bermain hakim sendiri,” katanya. Semakin dahsyat Menurut Wagub Aceh itu, tantangan yang dialami umat Islam saat ini dan ke depan akan semakin dahsyat, apalagi jika umat Islam tidak berkualitas, tidak memahami dan tidak mempraktekkan agama dengan benar serta terus menerus terpuruk dalam kemiskinan. “Sebab ada saja di dunia ini orang-orang yang memanfaatkan hal demikian dengan mengajarkan bahwa agama lain lebih benar dan menjamin kehidupan,” ujarnya. Karena itu, ujar Muhammad Nazar, penguatan akidah dan penerapan syariat Islam yang benar harus terjadi dalam seluruh sisi kehidupan dan harus dimulai dalam rumah tangga. “Karena itu pula, masyarakat muslim di Aceh harus lebih memperhatikan keluarganya di bidang agama, dan jangan hanya mencukupkan dengan langkah-langkah yang dilakukan pemerintah daerah saja,” ujarnya. Pemerintah daerah mengontrol, memfasilitasi, membuat aturan, mengkoordinasikan, menyediakan anggaran dan kelembagaan, tetapi masyarakat harus berpartisipasi aktif juga dalam hal memajukan pendidikan Islam. “Kami sekarang sedang menyelesaikan rencana pembentukan Komisi Pembinaan Keluarga Aceh (KPKA), di mana penduduk muslim di Aceh akan mendapat pembinaan khusus sebelum melaksanakan pernikahan, sehingga paling tidak memiliki nilai dasar tentang agama dan memahami tanggungjawab sebuah keluarga,” pungkas Wagub Muhammad Nazar. (Sumber: Serambinews.com & Dari berbagai sumber)

Rabu, 23 Juni 2010

Suku Aceh

Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia. Suku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda. Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan. Sejarah Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin, Kamboja. Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan dengan marga-marga mereka al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah kawin campur dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya. Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, contoh: Indra Puri). Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh. Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang antara Aceh dan Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke Eropa. Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Bandar arti: pelabuhan). Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang masih kental.

Jumat, 04 Juni 2010

In Memoriam Hasan Tiro Berakhirnya Sebuah Catatan Harian

“Tumbuh suburkan terus perdamaian Aceh. Andai saya mati besok, perdamaian Aceh harus tetap berlanjut.” (Hasan Tiro, 11 Oktober 2008) TEUNGKU HASAN TIRO yang Kamis kemarin tutup usia menjelang 85 tahun adalah sosok yang sangat cinta Aceh, seperti kecintaannya terhadap Indonesia pada awalnya. Ia tadinya nasionalis sejati, mengabdi sepenuh hati untuk republik ini. Bahkan saat berumur 20 pada tahun 1945 ia ikut menggerek Bendera Merah Putih di kampungnya, Tanjong Bungong, Pidie. Hasan Tiro muda mendapat banyak pengajaran tentang nasionalisme dari guru idolanya, HM Nur El-Ibrahimi. Itu sebab, ketika tokoh-tokoh Aceh mendukung kemerdekaan Indonesia, Hasan Tiro yang masih muda langsung bergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia di daerahnya. Lalu pada 24 September 1945, keluarga besar Tiro, termasuk pamannya, Umar Tiro, mengaku setia kepada Indonesia. Ia juga tak pernah menampik ketika mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Karena jenius, Hasan Tiro direkomendasikan Teungku Daud Beureueh kepada Perdana Menteri Indonesia waktu itu, Syafruddin Prawiranegara, untuk kuliah di UII. Hasan Tiro diterima di Fakultas Hukum dan tamat tahun 1949. Di universitas ini namanya tercatat sebagai pendiri Pustaka UII bersama Kahar Muzakkar, tokoh Sulawesi Selatan yang kelak menggerakkan pemberontakan DI/TII bersama Daud Beureueh dan Imam Kartosuwiryo (1953-1962). Tamat dari UII, Hasan Tiro kembali ke Aceh, bekerja pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah Perdana Menteri Syarifuddin Prawiranegara. Saat itu ibu kota negara dipindah ke Aceh, mengingat Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia sudah dikuasai Belanda saat terjadi agresi kedua Belanda. Saat umurnya 25 tahun, pria kelahiran 25 September 1925 ini terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan program magister dan doktoral di Universitas Columbia, Amerika Serikat (AS). Ia akhirnya kuliah di Jurusan Politik dan Hukum Internasional. Disertasi doktornya yang berjudul “Konstitusionalisme Kesultanan Aceh” menunjukkan betapa ia paham dan cinta Aceh. Sambil kuliah, Hasan Tiro bekerja pada Perutusan Tetap RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkantor di New York. Tapi karena merasa Jakarta “melukai” Aceh, nuraninya berontak, lalu berbalik memusuhi Pemerintah Indonesia. Ia bahkan rela melepas jabatan Staf Penerangan PTRI untuk PBB, semata-mata demi Aceh. Itu terjadi ketika ia--berdasarkan mandat yang diberikan Teungku Daud Beureueh, pemimpin DI/TII di Aceh--mendaftarkan diri sebagai Menteri/Duta Besar Darul Islam Indonesia/Negara Islam Indonesia di PBB pada tahun 1954, saat DI/TII bergolak di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Tapi PBB menolak Hasan Tiro. Awalnya nurani Hasan Tiro tergetar saat mendapat kabar di New York bahwa sekitar 92 warga sipil di Pulot, Cot Jeumpa Leupung, Aceh Besar, dibantai serdadu republik pada 26 Februari 1954. Ini ekses akibat ditembaknya belasan prajurit Indonesia oleh mujahidin DI/TII Aceh dua pekan sebelumnya. Karena para mujahid sudah menghilang dari kawasan itu, maka warga sipillah yang dijejerkan di pinggir laut, lalu ditembak mati. Hanya satu yang tersisa hidup. Ia pula yang membeberkan pembantaian sadis itu kepada Acha, wartawan Harian Peristiwa. Asahi Simbun, Washington Post, dan New York Times ikut melansir berita tersebut, sehingga Hasan Tiro membacanya. Dari kota “melting pot” New York, spontan ia layangkan surat pada 1 September 1954 kepada Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Ia desak Indonesia minta maaf dan mengakui bahwa pembantaian warga sipil tersebut merupakan genosida (pembantaian etnis Aceh). Para pelaku dia minta dihukum berat. Ia beri tenggat waktu sekitar dua minggu kepada Ali Sastro merespons tuntutannya. Jika tidak, maka Hasan Tiro akan resmi mendaftarkan dirinya sebagai Dubes Darul Islam Indonesia di PBB. Karena Ali Sastro tak menggubris, gertakan itu akhirnya jadi kenyataan. Ini pemberontakan pertama Hasan Tiro kepada Indonesia. Akibatnya, paspor diplomatiknya dicabut, sehingga ia menjadi sosok yang tak punya kewarganegaraan (stateless). Untung ia tak ditahan Imigrasi AS, karena mampu membayar denda 500 US dolar. Untung pula ada dua senator AS kenalannya yang membuat rekom, sehingga Hasan Tiro mendapat status permanent residence di New York. Setamat kuliah S3 di Columbia University, Hasan Tiro menikahi Dora, perempuan keturunan Iran berkebangsaan Amerika. Dari basil perkawinan itu, pasangan ini dianugerahi putra tunggal, Karim Tiro. Jauh dari Aceh makin menambah rasa keacehannya. Apalagi dia menganggap Aceh yang merupakan daerah modal justru dikhianati dan dilecehkan Jakarta. Baginya, Indonesia terlalu luas untuk diatur secara sentralistik dari Jakarta. Pada tahun 1958, Hasan Tiro menuangkan pemikiran dalam buku berjudul “Demokrasi untuk Indonesia”. Di situ ia tawarkan federasi sebagai bentuk Pemerintah Indonesia. Jadi, sebetulnya sejak DI/TII bergolak pada 1950-an, sudah tertanam benih-benih “Aceh harus bebas dari penindasan Jakarta” di benak Hasan Tiro. Kristalisasi ini berbuah pada 4 Desember 1976, saat ia deklarasikan Aceh Merdeka di Bukit Halimon, Luengputu, Pidie. Ada dua dokumen penting yang dia dapat di Markas PBB yang membulatkan tekadnya untuk memisahkan Aceh dari Indonesia. Dokumen itu berupa Resolusi PBB tentang Hak untuk Menentukan Nasib Sendiri (Right to Self Determination). Dokumen lainnya, berupa resolusi bahwa negara kolonial tidak boleh menyerahkan anak jajahannya kepada negara lain. Ia menilai, Perang Belanda terhadap Aceh tidak menyebabkan Aceh takluk dan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Selain itu, Belanda tak berdasar menyerahkan Aceh--melalui Konferensi Meja Bundar 1949--kepada Indonesia (Jawa), mengingat Belanda tak berkuasa penuh atas Aceh, malah lari meninggalkan Aceh, setelah tentara Jepang diundang ulama masuk Aceh. Ditambah alasan-alasan sejarah, etnosentris, dan penguasaan ekonomi oleh Jakarta atas Aceh, membuat Hasan Tiro punya banyak alasan menyambung perjuangan kakek buyutnya, Tgk Chik Di Tiro, untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Ia mengimajinasikan sebuah negara/kerajaan sambungan (succesor state). Untuk itu, Aceh harus mandiri dari Indonesia. Tinggalkan Karim Untuk mewujudkan obsesinya, pada 4 September 1976, Hasan Tiro meninggalkan kehidupan penuh glamor, istri yang cantik (Dora), dan anak semata wayang (Karim) yang baru berumur 6 tahun di Riverdale, New York, lalu ia kembali ke Aceh untuk berjuang memisahkan Aceh. Pada 4 Desember 1976 ia deklarasikan Aceh Merdeka. Ini maklumat perang untuk Indonesia. Sejak itu, resmilah Hasan Tiro untuk kedua kalinya menjadi musuh utama republik. Padahal awalnya, Hasan Tiro itu orang republik, sangat republiken, tapi akhirnya melawan republik karena ia merasa Jakarta mengkhianati Aceh lebih dari sekali. Tahun 1981 ia tulis buku “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan Tiro”. Catatan harian yang tak kunjung selesai itu ia tulis selama bergerilya di hutan Aceh. Menurutnya, hanya orang gila yang mau melakukan itu, mengingat tadinya ia hidup enak di New York. Hampir tiga dasawarsa perjuangan memerdekakan Aceh itu dia pimpin. Pengikutnya makin bertambah, demikian pula persenjataan dan personel terlatih. Semakin gencar GAM berjuang, semakin represif pula respons aparat keamanan Indonesia. Lalu, korban berjatuhan di sana-sini, lebih dari 33.000 orang tewas. Tapi akhirnya, celah menuju damai tersibak. Setelah JoU Jeda Kemanusiaan pada tahun 2000 gagal, berganti dengan darurat militer dan darurat sipil, Allah menggenapkan darurat Aceh dengan darurat tsunami. Sekitar 200.000 warga Aceh meninggal dan hilang. Hasan Tiro yang saat itu menonton tayangan televisi di Norsborg, Swedia, menitikkan air mata. Aceh yang ingin dia rebut sedang luluh lantak. Terjerembab ke titik nadir peradaban. Perlu kondisi damai untuk membangun kembali Aceh dari keterpurukan. Lalu, Hasan Tiro dan elite GAM menyahuti tawaran RI untuk berdamai di Helsinki. Perdamaian ini pula yang memungkinan Hasan Tiro dan Malik Mahmud yang awalnya paling dicari aparat keamanan Indonesia, bisa leluasa pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008. Setelah itu ia makin sering bolak balik dari ke Banda Aceh. Saat batang usianya mendekati 85 tahun, ternyata ia berjodoh dengan Aceh, sekaligus dengan Indonesia. Kemarin ia wafat setelah 26 jam menjadi warga negara Indonesia kembali. Maka, catatan harian tentang dirinya pun berakhir sudah. Konflik Aceh berujung damai dan Hasan Tiro pun berpulang dalam damai. Kita mencatat, Hasan Tiro adalah sosok sentral yang mempertinggi posisi tawar Aceh di mata Jakarta, sehingga di taman raya Indonesia, Aceh mendapat status otonomi khusus yang luar biasa. Terima kasih Teungku, selamat jalan Wali. Sebagaimana ia pesankan di awal tulisan ini, mari kita tumbuh suburkan terus perdamaian Aceh, kendati ia sudah tiada. [Sumber: Serambinews.com]

Rabu, 28 April 2010

10 negara termakmur di dunia

10. Swiss $39,800 Negara penghasil keju ini dianggap sebagain negara yang paling netral di antara semua negara di dunia. Pada saat Perang Dunia ke 2, orang2 dari negara eropa lain mendepositkan uang mereka di bank Swiss, karena mereka percaya bahwa uang mereka akan lebih aman di Swiss ketimbang di bank negara mereka sendiri. Berikut ini beberapa perusahaan Swiss yang terkenal; Nestle, Logitech, Rolex, dan Credit Suisse. 9. Equatorial Guinea $ 44,100 Republik Equatorial Guinea merupakan negara yang terletak di pusat Afrika. Jarang sekali orang pernah mendengar negara ini. Negara ini mulai kaya waktu ditemukannya tambang minyak pada tahun 1996. Di negara ini korupsi juga ga bisa diberantas, udh meraja lela pokoknya. Perbedaan antara kaum kaya dan miskin di negara ini paling tinggi dibanding negara2 lain. 8. Ireland $ 45,600 Negara di benua eropa ini sering dikenal ssebagai satu dari beberapa negara dengan sistem ekonomi yang modern di dunia. Ireland merupakan negara penghasil software terbesar di dunie. Negara ini juga telah mendapat gellar sebagai negara gengan kualitas hidup tersukses di dunia. 7. United States $ 46,000 Faktor utama pendukung kekayaan negara ini adalah besar wilayahnya. populasinya lebih dari 300 juta dan total area nya 9.83 juta km persegi. Negara ini juga merupakan tempat tinggal banyak milyuner ternama di dunia. 6. Singapore $ 48,900 Negara ini merupakan negara yang sangat kecil tapi menjadi pelabuhan internasional tersibuk di dunia. Negara ini juga merupakan satu dari Four Asian Tiger (empat macan asia). 5. Arab $ 55,200 Negara ini ga usah ditanya lagi, minyak sama gas nya udh ga keitung lagi. Negara ini juga baru aja menyelesaikan proyek pembuatan gedung tertinggi di dunia yaitu Burj Khalifa. 4. Kuwait $55,300 Negara ini terletak di sebelah Arab, ya otomatis punya banyak minyak juga. Negara ini masuk ke 5 negara penghasil minyak terbesar di dunia. Bahkan gara2 terlalu kaya, negara ini tidak mengenakan pajak ke penduduknya. (Kaya banget tuh gan) 3. Norway $ 55,600 Negara ini ada di benua eropa tapi ga termasuk Eropa Union. Dari survey yang dilakukan, negara ini mempunyai living cost yang lebih besar 30% dari amerika. 2. Qatar $ 75,900 Negara ini mendapat kemerdekaan pada tahun 1971 oleh Inggris. Pada awalnya negara ini miskin tapi taun 1940an, ditemukan tambang minyak. OKB dah negara ini. Negara ini lebih extrim lagi gan, selain ga ada pajak, banyak juga fasilitas umum yang digratisin sama pemerintah. (Maklum udh kaya) 1. Luxemborg $ 80,800 Negara kecil yang cuman punya populasi kurang 500,000 dan termasuk 8 negara terkecil di dunia ini memang sebuah keajaiban. Panjangnya cuma 50 mil sedangkan lebarnya 30 mil. Ini baru namanya kecil2 cabe rawit. [Sumber: pasaronline.blogdetik.com]

Selasa, 06 April 2010

Label-label Untuk Aceh

ACEH begitu rencam dengan pelbagai julukan, mulai dari yang menyenangkan hingga yang ngeri dan menakutkan. Saya adalah kolektor label-label Aceh dan menyimpannya dalam satu album. Pada halaman depan terdapat label “Serambi Mekah” untuk Aceh. Sebab dalam sejarahnya, Aceh bukan saja pembina, pusat peradaban Islam dan budaya Melayu, tetapi hukum positive Aceh-qanun Al-Asyi- ditransfer oleh beberapa negeri di kawasan dunia Melayu ke dalam hukum positive mereka. Jadi label ini, identik dengan aplikasi syariah Islam. Pada lembaran berikutnya, terdapat label “Tipu Aceh”. Label ini megah dan hampir setara populernya dengan label “Serambi Mekah”. Dalam rentang masa 1858-1873, Belanda memberi label “Lanun Selat Melaka” kepada Aceh. Sampai-sampai Inggris tergiur dan mau mengkhianati Aceh dalam “Traktat London” tahun 1871. Label ini dijadikan isu utama oleh Nieuwhagen (juru runding Belanda) dalam rundingan antara Aceh-Belanda antara tahun 1871-1873, dimana Turki berperan sebagai mediator. Perang melawan Belanda akhirnya meletus tahun 1873. Selama berlangsung perang, muncul label “Aceh Pungoë”, sebab pejuang Aceh (lelaki dan wanita) berlomba-lomba mati syahid. Ini tidak dijumpai Belanda di tempat lain. Alasannya, perang adalah cara menuju syurga, dimana bidadari sudah menanti para syuhada. Dalam era tahun 1948-1949, Aceh diberi label “Daerah Modal” oleh Sukarno dan inilah buat pertama sekalinya status Aceh mengalami degradasi. Antara tahun 1953-1961, Sukarno menukar dengan label “pemberontak D.I” kepada Aceh, karena tidak berjiwa republiken. Berselang beberapa tahun kemudian, muncul label “Gerombolan Pengacau Liar Hasan Tiro (GPLHT). Label ini dialamatkan kepada aktivis Aceh Merdeka tahun 1976. Selebaran yang memuat 9 foto Kabinet Tengku Hasan di Tiro ditulis: “Tangkap Hidup atau Mati” ditempel di merata tempat, yang kesan organisasi Aceh Merdeka (AM), tak solid dan teratur, walaupun tokoh AM waktu itu terdiri dari kalangan intelektual, ulama dan tokoh masyarakat. Pamplet inilah yang kemudian dipakai sebagai alasan politik oleh aktivis AM untuk meminta suaka politik ke luar negeri. Ketika trend politik dunia internasional menggulir isu komunisme, maka label “Jaringan Komunisme Internasional” diberi kepada Aceh. Label ini pertama sekali dilontarkan oleh Adam Malik (Menteri Luar negeri). Dengan label ini, Indonesia berharap agar masyarakat internasional tidak mendukung Aceh Merdeka. Padahal orang tahu bahwa sejak tahun 1902 lagi, paham komunisme sudah berkembang di pulau Jawa. Bahkan dalam Pemilu 1955, selain Masyumi; PKI merupakan pengumpul suara terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kemudian baru disadari, kalau label ini justeru menjadi bumerang. Soalnya, Adam Malik sendiri berbau paham komunis itu mendirikan partai politik MURBA dan ikut bertanding dalam Pemilu tahun 1971, biarpun kèok! Seterusnya muncul label “Mafia Ganja Internasional” untuk Aceh. Targetnya untuk merusak citra Aceh di mata dunia internasional dan agar Badan Keuangan Internsional mengucurkan dana untuk menumpas ‘mafia ganja’ ini. Untuk itu, diplomat Indonesia yang hadir dalam Sidang Komisi HAM di Geneva (1992-1993), sengaja membawa rekaman video untuk ditayangkan di depan perserta sidang. Video ini memerlihatkan “aktivis GAM” sedang menanam dan mengedarkan ganja dari Aceh hingga ke luar negeri. Mesir dan Bangladesh keburu percaya, hingga saat diadakan voting tentang pelanggaran HAM di Aceh, kedua negara ini memihak Indonesia. Namun, hasil akhir tetap Aceh mendapat sokongan 6 suara dari 4 suara yang disyaratkan. Akhirnya dibentuk suatu team PBB untuk penyidik pelanggaran HAM di Aceh untuk dilaporkan pada Sidang tahun berikutnya. Hasilnya mengejutkan. “Aktivis GAM” dalam video itu terbukti bukan orang Aceh, tetapi orang-orang dari daerah lain. Seterusnya, Aceh diberi label “Gerakan Islam Fundamentalis”. Harapan yang mau diraih dari label ini, supaya dunia Barat mau memojokkan GAM. Orang tahu, kalau istilah “Islam fundamentalis” adalah rekaan dunia Barat, ditujukan kepada kelompok Islam radikal yang disifatkan sebagai teroris dan membenci orang nasrani secara berlebihan. Dalam realitasnya, tudingan ini tidak wujud di Aceh. Penduduk Aceh yang terdiri dari muslim dan non muslim hidup harmonis di Aceh. Kemudian muncul label “Gerakan Pengacau Keamanan” (GPK). Label ini tidak untuk dijual ke pasaran dunia internasional. Fokusnya tertuju pada tindakan menumpas, sebab label-label sebelumnya dinilai gagal. Sebagai selingan, diberi label “Kekuatan Sipil Bersenjata” (KSB). Label ini muncul saat Aceh-RI sedang duduk berunding di Geneva untuk melahirkan “Humanitarian Pause” dan “Moratorium on Violence”, yang bertujuan melucuti senjata berselimut pakain sipil yang merampok, membakar, memperkosa, membunuh dan memeras rakyat. Pelakuknya ialah orang tidak dikenal (OTK)”. Pada gilirannya, label “Gerakan Separatis Aceh” (GSA) untuk Aceh. Label ini disembur karena Aceh dianggap wilayah teritorial Indonesia. Sementara Tgk. Hasan M. di Tiro, proklamator Aceh Merdeka berkata lain. Yang paling baru dan hangat adalah label “teroris Aceh”. Dalam skala internasional, isu teroris masih tetap laku diperjual-belikan. Gerakan pembebasan Mindano Merdeka, sudah diklasifikasikan ke dalam jaringan teroris internasional. Kini giliran Aceh, yang pada awalnya dituding memiliki hubungan dengan kelompok Noordin M.Top, Zulkarnain, Dulmatin, Umar Patek, alumnus kém latihan militer di Mindano. Dalam skala politik nasional, label “teroris Aceh” adalah “cangkram” bagi kebijakan hankam di masa depan, sekiranya GAM berjuang angkat senjata kembali. Untuk itu, berdasarkan teori konspirasi, gema “teroris Aceh” perlu diserentakkan dengan kasus bobolnya Bank Century yang sudah merakyat. Dengan begitu, label ini nantinya akan melekat di gusi rakyat. Kendati ada teroris populer beroperasi di pulau Jawa dan teroris asal Pandeglang (pulau Jawa) beroperasi di Aceh, mereka tidak akan diberi label “teroris Jawa”, sebab tidak memiliki nilai tawar dan jual. “Teroris Aceh” juga dikaitkan dengan aksi lanun di Selat Melaka. Ini mengingatkan kita kepada peristiwa 137 tahun lalu dengan label “Lanun Selat Melaka” nya Nieuwhagen untuk Aceh. Jadi, sekiranya cermat menyimak kronologi pemberian label-label ini, orang tidak akan kagét, sebab segalanya mengalir deras dalam arus kepentingan politik lokal, nasional dan internasional. Dalam konteks ini, perlu menjadi suatu catatan bahwa: sikap Van kol, Bogaard, Van Deventer, Van Byland, Thomson, Ijerman dan De Dtuers (semua anggota Parlemen) Belanda yang sengaja datang ke Aceh, guna memastikan kebenaran laporan tentang tindakan militer Belanda dinilai biadab adalah patut dihargai. Sebab, anggota Parlemen ini tahu menggunakan hak, “investigasi”, dan “hearing”, dimana hasil survey yang ditemukan di lapangan; selain dibahas dalam Sidang Istimewa Parlemen dengan menghadirkan petinggi militer yang bertanggungajawan di Aceh, juga menyampaikan rekomendasi yang mengutuk, karena terbukti bahwa pemerintah Belanda telah membenarkan militernya bertindak zalim terhadap orang sipil dalam perang Aceh. Ini terjadi tahun 1907. Akhirnya, terlepas dari segala-galanya, DPR Aceh sesungguhnya memiliki hak “hearing” untuk memanggil dan mendengar keterangan resmi secara langsung prihal “teroris Aceh” dari pihak kepolisian dan Pemda, sehingga rakyat bebas dari ketakutan. Informasi tersebut disajikan kepada rakyat. Masalahnya: kita tidak tahu; apakah DPR Aceh sekarang tahu menggunakan haknya atau barangkali, kualitasnya tidak lebih dari gerombolan politisi “paneuk antena” yang ngomong bak insinyur, padahal paket C. * Penulis adalah Director Institute for Ethncis Civilization Research [Sumber: Serambinews.com]

Rabu, 10 Maret 2010

Cenote Angelita

Cenote Angelita, Meksiko... Subhanallah :) Di dalam LAUT ada SUNGAI, inilah BUKTI keMahasempuranaan Allah :) “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53) Jika anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan…” Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara. Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al`Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.” Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan. Namun pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah... ALLAH IS GREAT !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Adanya sungai di dalam laut Mexico memang menjadi fenomena yang unik dan mengundang perhatian banyak orang, Karena secara ilmiah sungai di dalam laut itu tidak mungkin terjadi. Namun Anatoly Beloshchin, seorang penyelam berhasil mengambil gambar 'sungai di dalam laut' dari kedalaman 60 meter perairan Cenote Angelita, Mexico. Seperti dilansir crystalkiss.com, di kedalaman lebih dari 30 meter tim penyelam menemukan air tawar di tengah kolom air laut. Kondisi itu berubah dan penyelam kembali menemukan air laut mulai melewati kedalaman 60 meter... Beberapa meter dari lokasi itu akan ditemukan sebuah gua. Di bagian bawah dekat gua itu tim penyelam menemukan sebuah sungai lengkap dengan pohon dan dedaunan yang mengapung di kolom air itu. Ternyata lokasi itu bukanlah sungai seperti yang terlihat di daratan. Tetapi, suasana itu memang mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan. Tapi tunggu dulu, warna kecoklatan itu bukanlah berasal dari air tawar. Disebutkan, bagian kecoklatan yang mirip air sungai itu adalah lapisan bagian bawah gas hidrogen sulfida. Gas yang biasanya dihasilkan dari saluran pembuangan kotoran. Secara keseluruhan, tim penyelam menemukan itu adalah kondisi yang sangat mengejutkan dan menakjubkan untuk dipandang. "Di kedalaman 60 meter saya menemukan kembali air laut. Saya melihat sebuah sungai, pulau, lengkap dengan daun yang berguguran. Tapi sungai yang kami lihat adalah lapisan dari gas hidrogen sulfida," kata Anatoly... Kalau lagi berkunjung ke Meksiko, kamu harus datang ke sungai Cenote Angelita. Di dalam sungai ini, ada sebuah gua dengan view yang bikin takjub banget! Kalau menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya adalah air tawar. Sementara kalo kamu menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya akan menjadi air asin. Nggak cuma itu, kamu juga bisa melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan tanaman daunnya. Wow! Kabarnya, ini sebenarnya bukan sungai biasa loh tapi sebuah lapisan hidrogen sulfida yang kelihatan seperti sungai.. “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53) http://www.youtube.com/watch?v=EapX2qrkdKQ http://www.youtube.com/watch?v=FaE1eOeveM4 http://www.youtube.com/watch?v=VG1FI15AKug Hydrogen Sulfida (H2S) mengendap di sungai tersebut. Semua kayu, bangkai binatang akan diuraikan oleh Hydrogen Sulfida kembali menjadi alam. Hydrogen Sulfida (H2S) adalah gas beracun yang berbau seperti telor busuk. Gunung berapi juga mengeluarkan gas beracun Hydrogen Sulfida (H2S). Ketika manusia mengeluarkan udara dari lobang pantat (kentut); maka gas beracun Hydrogen Sulfida (H2S) akan keluar dari dalam tubuh manusia dalam jumlah yang sangat kecil; sehingga manusia bau telor busuk; ketika dia mengeluarkan gas dari dalam tubuhnya. Air laut (H2O) menahan gas beracun (H2S) tersebut di dalam laut; sehingga tidak keluar ke udara. Jika Sulfur keluar dari dalam air laut maka; maka akan terjadi percemaran udara. http://www.youtube.com/watch?v=FaE1eOeveM4 http://www.youtube.com/watch?v=EapX2qrkdKQ http://www.youtube.com/watch?v=IKg041c27o8 Disadur dari berbagai sumber... untuk lebih lanjut silahkan klik www.cenoteangelita.com dan searching di www.youtube.com dengan kata kunci Cenote Angelita...

Kamis, 18 Februari 2010

Mesin Wudhu' Hemat Air

Perusahaan Malaysia mengembangkan mesin wudu otomatis yang disebut-sebut bisa menghemat air. Mesin tersebut dilengkapi sensor guna mengatur air saat digunakan untuk berwudu.Krisis ketersediaan air bersih akan berakibat langsung terhadap pemenuhan kebutuhan air di semua sektor kehidupan. Di sektor pertanian, misalnya, kelangkaan air akan berakibat pada menurun-nyaproduksi pertanian yang pada tahap berikutnya bisa memicu krisis pangan. Selain menyebabkan krisis pangan, krisis air bersih juga kerap memicu terjadinya konflik antarkelompok masyarakat atau antarnegara. Berbagai dampak yang cukup serius itu mendorong negara-negara di dunia untuk menggalakkan gerakan budaya menghemat penggunaan air kepada warga mereka. Gerakan tersebut bertujuan pula untuk melestarikan sumber daya air. Sebagai gambaran, andaikata setiap orang bisa menghemat pemakaian air sebanyak lima liter per hari, maka dalam satu bulan terjadi penghematan air sekitar 150 liter. Apabila ada sekitar satu juta orang yang melakukan penghematan seperti itu, maka volume air yang dihemat bisa mencapai 150 juta liter per bulan. Meski perhitungan itu masih di atas kertas, setidaknya hal tersebut bisa menggambarkan pentingnya penghematan air untuk mencegah terjadinya krisis air bersih. langan sampai kondisi krisis air bersih seperti yang dialami negara-negara di Afrika meluas ke belahan dunia lainnya. Krisis air bersih di Afrika berdampak pula pada terjadinya krisis multidimensi, dari kelaparan, kemiskinan, hingga kemajian penduduk.... Bersyukur, Indonesia tidak mengalami kondisi krisis air bersih separah Afrika. Meski demikian, bukan berarti Indonesia lantas tidak menempuh upaya apa pun untuk mencegah terjadinya krisis air bersih. Apalagi belakangan gejala-gejala menurunnya pasokan air bersih terjadi di bebe/apa daerah, antara lain DIG lakarta, lawa Tengah, dan Jawa Timur. Agar pasokan air bersih tetap mencukupi, diperlukan upaya-upaya yang harus dilakukan sesegera mungkin. Langkah antisipatif itu diajukan pula oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Organisasi yang bermarkas di New York, Amerika Serikat (AS), itu membuat laporan yang memprediksikan bahwa dunia akan mengalami krisis air global pada 2050. Adanya laporan PBB yang disampaikan di Forum Air se-Dunia kelima di Istanbul, Turki, pada Maret 2009 itu setidaknya menjadi lampu kuning agar masyarakat dunia melakukan langkah antisipatif terjadinya krisis air bersih. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mengembangkan teknologi tepat guna yang bisa menghemat penggunaan air bersih. Teknologi yang dimaksud ialah mesin wudu otomatis yang bisa mengatur penggunaan air. Mesin yang dikembangkan AACE Technologies, Malaysia, itu baru-baru ini diumumkan ke publik. Dilengkapi Sensor Mesin wudu otomatis dirancang agar pengguna - kaum muslim - bisa menghemat penggunaan air ketika mengambil wudu. Di dalam mesin dipasang sensor otomatis yang bisa mengatur volume air. Harga mesin per unitnya mencapai 3 ribu doUar AS sampai 4 ribu dollar AS atau setara dengan 28 juta rupiah hingga 38 juta rupiah. Untuk memproduksi mesin tersebut, AACE Tecnologies memerlukan waktu dengan biaya riset yang mencapai 2,5 juta dollar AS atau sekitar 23,4 miliar rupiah. Kepala AACE Technologies, Anthony Gomez, mengatakan mesin itu memang didesain untukmenghemat air saat digunakan untuk berwudu. "Dengan mengaplikasikan mesin wudu otomatis ini, diharapkan air tidak banyak terbuang," ujar Gomez seperti dilansir Reuters. Berwudu bagi kaum muslim merupakan ritual yang harus ditu-naikan sebelum menjalankan salat. Ketika berwudu, sebagian anggota tubuh seperti tangan, wajah, hidung, kening, telinga, dan kaki dibersihkan dengan menggunakan air bersih yang suci dari segala kotoran. Biasanya, proses bersuci itu dilakukan dengan air dari keran yang mengucur tanpa henti sampai proses berwudu selesai. Dalam pengamatan para peneliti AACE Technologies, berwudu dengan cara tersebut memboroskan air. Pasalnya, air senantiasa mengucur dan volume air yang terbuang pun terbilang besar. Andaikata 1,7 miliar muslim di dunia berwudu dengan cara demikian, dapat dibayangkan betapa banyaknya air yang terbuang percuma ke saluran pembuangan. Bagi umat Islam yang bermukim di negara-negara yang memiliki sumber air bersih melimpah mungkin tidak terlalu bermasalah, namun tidak demikian halnya bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah krisis air bersih, seperti di Afrika dan Timur Tengah. Sebagai solusi dari kondisi itu, AACE Technologies kemudian menciptakan mesin yang bisa membantu kaum muslim berwudu dengan menggunakan air secara efijjfil,,. .mmmtmmmm„, "Mesin wudu otomatis ini akan sangat bermanfaat bagi negara-negara yang pasokan airnya minim. Selain itu, mesin tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam yang tidak membolehkan pengikutnya melakukan pemborosan," papar Gomez. Dilihat dari dimensinya, mesin wudu otomatis berwarna hijau dan berornamen itu memiliki tinggi ,65 meter. Sensor yang terpasang pada mesin akan menghentikan kucuran air secara otomatis ketika air tidak digunakan. Selain sensor, mesin juga dilengkapi penampung air untuk menghemat penggunaan air. Ada dua bak di mesin itu, yakni bak untuk mencuci tangan di bagian atas dan bak untuk mencuci kaki yang ditempatkan di bagian bawah. Di tiap-tiap bak ada keran yang dilengkapi sensor. Air hanya akan keluar jika kaki atau tangan berada di bawah keran itu. Mesin itu hanya menggunakan 1,3 liter air untuk satu kali proses wudu. Bandingkan dengan penggunaan air tanpa memakai mesin wudu otomatis yang bisa menghabiskan air dengan volume berka|j-kali lipat lebih besar. Pihak AACE Technologies mengklaim dengan penggunaan mesin wudu otomatis air bisa menghemat jutaan liter air. Mesin tersebut juga dipandang cocok untuk diaplikasikan di Arab Saudi, terutama ketika musim haji. Selama musim tersebut, sekitar dua juta orang diprediksi menggunakan 50 juta liter air per hari untuk berwudu. Apabila mesin wudu otomatis diaplikasikan ketika masa-masa puncak ibadah haji, Gomez memprediksikan akan terjadi penghematan air sebanyak 40 juta liter per hari. Meski terbilang mahal, mesin tersebut tetap diminati sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Dubai, Uni Emirat Arab, merupakan kota pertama yang tertarik membeli mesin itu untuk diaplikasikan di bandara Dubai. Selain masjid-masjid, AACE juga membidik gedung perkantoran sebagai target pemasaran mesin wudu otomatis yang mereka produksi. Mesin itu dapat dipasang di tembok dan digunakan oleh enam orang dalam sekali pemakaian. Ada kelebihan lain yang ditawarkan mesin wudu otomatis, yaitu selain bisa menghemat air, mesin tersebut dapat memutar rekaman ayat-ayat suci Al-Quran yang sudah direkam terlebih dahulu. [Dari Berbagai Sumber]

Senin, 08 Februari 2010

Senin, 25 Januari 2010

9 Jenis Teh Terbaik di Dunia

Teh sudah dikenal khasiatnya sejak ratusan tahun yang lalu. Ternyata setiap jenis teh memiliki khasiat yang berbeda-beda. Berikut ini adalah 9 jenis teh terbaik dan waktu yang baik untuk meminumnya. Yuk, simak info lengkapnya di sini! Minuman ini tak hanya enak sebagai teman kala sore, tapi juga memiliki khasiat yang baik untuk tubuh. Hal ini telah dipercaya sejak ratusan tahun yang lalu. Teh sendiri banyak sekali jenisnya. Dan setiap jenis memiliki khasiat yang berbeda untuk tubuh dan kesehatan. Seperti halnya teh oolong yang mengandung antioksidan yang baik untuk ketahanan tubuh ujar para peneliti dari Cina. Berdasarkan studi di Jepang tahun 2009 lalu, jenis teh hijau dipercaya mampu menjaga kesehatan gusi. Sedangkan jenis teh hitam bisa menangkal penyakit Parkinson, hal ini berdasarkan studi yang dilakukan tahun 2008 di The American Journal of Epidemiology. Adalah Christopher Day, seorang ahli teh di Manhattan's Gilt mencoba memberikan informasi tentang waktu dan jenis teh yang baik saat dikonsumsi. Genmaicha Teh hijau asal negeri sakura ini paling baik diminum saat siang hari. Teh ini juga diberi campuran butiran beras yang dipanggang sehinga menghasilkan aroma seperti nasi gosong yang gurih dan sedap saat diseduh. Hmm..hampir mirip dengan aroma popcorn sedangkan warna tehnya hijau pucat cenderung bening. Sur le Nil Paling pas diminum setelah makan malam untuk merilekskan tubuh dan juga pikiran. Soal rasa, Sur le Nil ini jauh lebih lembut jika dibandingkan dengan teh hijau jenis yang lain. Kalau diminum mirip dengan teh camomile yang diberikan sedikit perasan lemon dan rempah-rempah. High Mountain Oolong Oolong tea ini cocok sekali diminum setelah seharian bekerja. Efek dari meminum teh oolong adalah perasaan rileks dan tenang setelah seharian berkutat dengan rutinitas kantor. Oolong tea terbuat dari daun teh yang tebal sehingga memberikan aroma floral yang kuat dan menyeimbangkan mood sebelum makan malam. Wood Dragon Oolong Untuk teh oolong jenis Wood Dragon ini paling baik diminum untuk mereka yang sudah berhenti minum kopi. Karena teh ini mengandung lebih banyak batang daripada daun teh membuat rasanya jadi lebih kuat dan terasa sekali aroma hutannya. Wood Dragon Oolong mengandung lebih sedikit kafein namun memiliki rasa yang kuat jika dibandingkan teh oolong lainnya. Honey Phoenix Oolong Jenis oolong tea ini paling pas jika diminum di akhir musim dingin. Ini adalah salah satu jenis teh yang cukup kuat, dengan rasa yang hampir mirip dengan biji chery. Hal ini yang menyebabkan rasanya sedikit manis dengan akhir yang agak pahit. Warna tehnya saat diseduh menjadi kecoklatan sedikit pekat. Vanilla Rooibos Teh ini bisa dijadikan menu penutup. Selain rasanya yang ringan dan tidak mengandung caffein, Anda akan merasakan rasa manis yang ringan dan sedikit creamy di akhir tegukan. Tak heran jika teh jenis ini sangat cocok sebagai menu penutup atau dessert. Cassis Jenis teh hitam ini memiliki rasa yang cukup kuat, memiliki aroma seperti blackcurrant dengan rasa yang sedikit manis. Sangat cocok diminum setelah istirahat di siang hari atau pagi hari yang cukup dingin untuk membuat tubuh kembali segar. Pu-erh Tuocha Cocok untuk Anda yang senang minum kopi. Rasanya yang kuat dan sederhana namun memiliki kandungan kafein yang cukup nendang! Daun teh hitam ini di pres menjadi sebuah bulatan kecil yang akan mengembang ketika diseduh dengan air panas. Air tehnya berwarna cokelat pekat cenderung kehitaman. Sencha Teh hijau yang cukup ringan dengan rasa yang manis dan lembut, tanpa sedikit pun terasa pahit yang kuat seperti teh hijau lainnya. Biasanya menjadi teman saat menyantap sushi atau sebagai menu penutup. Teh hijau ini cocok untuk Anda yang baru belajar untuk meminum teh hijau. [Sumber: Detik.com]

My Name..

What HERY SUHENDRA Means
H is for Honest

E is for Easy

R is for Refined

Y is for Young

S is for Sassy

U is for Unusual

H is for Honest

E is for Expressive

N is for Neat

D is for Dramatic

R is for Rich

A is for Ambitious